PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM MENUJU PEMBUDAYAAN PENALARAN

 

 

KATA PENGANTAR

 

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) sebagai ilmu pengetahuan dasar sangat diperlukan antara lain untuk memahami ilmu-ilmu lainnya dan juga memahami gejala-gejala alamiah.  Sesuai dengan sifat dan karakteristiknya MIPA diharapkam mampu memberikan dasar yang kuat menuju pembudayaan penaalaran.

Memorandum Pandangan ini secara khusus berupaya menelaah dan mengkaji peranan pendidikan Matematika dan Ilm Pengetahuan Alam untuk pembudayaan penalaran, dan berbagai masalah yang terkait, terutama berkenaan dengan penyusunan dan pengembangan kurikulum pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Serangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan untuk mengkaji dan menelaah Memorandum Pandangan ini antara lain menelaah hasil-hasil penelitian, mengadakan dialog dan konsultasi dengan para ahli, tokoh masyarakat, dan anggota masyarakat.  Di samping itu, melakukan kunjungan dan pengamatan ke berbagai satuan pendidikan.

Berdasarkan kesepakatan pendapat anggota BPPN, penyusunan Memorandum Pandangan ini dikoordinasikan oleh Bapak Prof. Dr. Achmad Baiquni.

Selanjutnya, diharapkan semoga pemikiran, pandangan, dan saran yang dituangkan dalam Memorandum Pandangan ini dapat berguna untuk meningkatkan mutu manusia Indonesia melalui bidang pendidikan.

  

                                                               Jakarta, November 1992

 

                                                               Makaminan Makagiansar

                                                               Ketua Badan Pertimbangan

                                                               Pendidikan Nasional

 

I. MATEMATIKA DAN SAINS SEBAGAI ILMU-ILMU DASAR

 

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam atau sains, istilah masa kini, digolongkan sebagai ilmu-ilmu dasar.  Untuk menghindarkan salah pengertian, lebih dahulu dijelaskan apa ilmu-ilmu dasar itu.  Sebenarnya tidak mudah bagi seseorang untuk memberikan definisi yang singkat tentang ilmu-ilmu dasar.  Namun secara sederhana, dapat dikatakan ilmu dasar adalah bagian ilmu manusia yang diperlukan untuk memahami ilmu-ilmu lain.  Misalnya, matematika, yang sedikit atau banyak diperlukan bagi pengembangan ilmu-ilmu lain, sehingga mendapatkan julukan sebagai "Ratu" dan sekaligus "Pramuwisma" di antara ilmu-ilmu lain itu.  Kimia, fisika dan biologi merupakan ilmu dasar bagi ilmu kedokteran (kedokteran umum, kedokteran gigi, dan kedoktran hewan) dan ilmu pertanian (termasuk peternakan, perikanan, dan kehutanan) meskipun tidak secara langsung, sebab ada biokimia, fisiologi  dan lain-lainnya.

Di samping itu, fisika, kimia, dan geologi yang merupakan dasar bagi ilmu keteknikan (misalnya sipil, mesin, listrik, aeronatika, dan pertambangan) dan teknologi (antara lain kimiawi, metalurgi, pertambangan ekstraktif) meskipun juga tidak secara langsung, karena adanya mekanika terapan, termodinamika teknis dan lain-lainnya.  Jadi, boleh dikatakan bahwa matematika, fisika, geologi, biologi, dan kimia adalah ilmu-ilmu dasar.  Sedangkan kedokteran, pertanian, keteknikan dan teknologi termasuk ilmu-ilmu terapan yang menggunakan atau menerapkan ilmu-ilmu dasar itu.  Selain itu, ada pula ilmu-ilmu yang dikategorikan sebagai dasar, yaitu astronomi dan meteorologi, meskipun tidak diperlukan untuk memahami ilmu lainnya.  Astronomi dan meteorologi, diperlukan untuk memahami gejala-gejala alamiah.

Dalam astronomi dan meteorologi sebenarnya digunakan ilmu-ilmu dasar antara lain matematika dan fisika.  Namun, kedua ilmu tersebut tidak dapat digolongkan sebagai ilmu terapan, karena ilmu terapan pada umumnya hanya mencakup ilmu yang mendukung kegiatan ekonomi, atau yang meningkatkan kesejahteraan.

Dengan membandingkan ilmu dasar yang satu dengan yang lain, dapat diketahui bahwa di antara mereka ada yang paling dasaryaitu matematika dan fisika.

Ilmu kimia memperoleh kemajuan besar dan berubah dari suatu ilmu yang sifatnya fenomenologis dan eksperimental menjadi ilmu yang memiliki teori, yang dapat menerangkan gejala-gejala yang ditanganinya, dan mempunyai kemampuan prediktif.  Hal tersebut dimungkinkan setelah ilmu fisika melengkapinya dengan pengetahuan tentang struktur atom dan mekanisme yang mengendalikannya, yang dituangkan dalam bentuk: mekanika kuantum.

Biologi dapat lebih dipahami setelah ilmu fisika dan kimia dikembangkan tidak hanya untuk menerangkan proses-proses yang terlibat di dalamnya, tetapi juga untuk mengungkapkan struktur dasarnya sampai pada tingkat biologi molekular dan genetika.

Astronomi membutuhkan  fisika dan matematika, meteorologi memerlukan fisika, matematika, dan mungkin juga kimia, sedangkan geologi tak akan dapat dipahami tanpa bantuan ilmu-ilmu fisika dan kimia.

Selanjutnya, akan dijelaskan perbedaan antara sains yang mencakup fisika, kimia, biologi, geologi, astronomi serta meteorologi dengan matematika.  Sains dan matematika meskipun pada dasarnya mempunyai disiplin berpikir yang sama, yaitu menggunakan logika atau penalaran yang masuk akal, ada perbedaan yang prinsipal antara kedua jenis ilmu dasar itu.  Suatu struktur matematika disusun atas dasar aksioma atau postulat dan konsep primitif yang dilengkapi dengan definisi-definisi, dan menggunakan metode deduksi.  Pada mulanya dasar matematika bersumber pada observasi yang menghasilkan bilangan, kumpulan objek atau himpunan, dan berbagai bentuk atau bangun.

Sains terbentuk dari konsensus ilmuwan yang semula juga bersumber pada pengamatan alam sekitar. Dengan menggunakan cara induksi mulai dari pengukuran yang cermat melalui observasi, yang kemudian disusul dengan analisis atas data pengukuran yang terkumpul secara kritis, dicapai suatu kesimpulan yang rasional dan berlaku umum. Ada pendapat yang mengatakan bahwa sains adalah himpunan rasionalitas kolektif insani. Oleh karena perbedaan metode itulah maka struktur matematika mempunyai keunikan. Dalam struktur matematika, yang berbeda, berbagai pernyataan yang tampaknya bertentangan satu sama lain dapat hidup berdampingan. Sedangkan dalam sains hal semacam itu tidak dimungkinkan. Misalnya, berkoeksistensinya geometri Euklides dan geometri Lobatschewski atau Gauss. Yang satu mengatakan bahwa dua garis lurus yang tidak sejajar dan terletak dalam satu bidang mesti berpotongan, tetapi yang lainnya mengatakan bahwa mereka dapat juga tidak saling memotong. Menurut geometri Euklides jumlah sudut-dalam pada sebuah segitiga besarnya 180 derajat, tetapi geometri yang lain bahwa jumlah sudut-dalam pada segitiga dapat lebih besar atau lebih kecil dari 180 derajat. Dalam lingkup masing-masing, semua pernyataan tersebut benar, artinya dapat dibuktikan kebenarannya. Hal semacam ini tidaklah  mungkin terjadi dalam fisika, atau sains pada umumnya. Sebab, dua teori atau ajaran yang saling bertentangan di dalam fisika akan dikaji kebenarannya dengan memperbandingkan mereka dengan apa yang diperlihatkan alam. Fisika hanya dapat mentolelir satu kebenaran saja yaitu yang dianggap sesuai dengan kenyataan alamiah. Dalam menentukan apakah suatu teori atau ajaran dalam sains itu benar, yang menjadi hakim adalah kenyataan alam itu sendiri.

Dalam perkembangannya dapat dikatakan bahwa matematika dan sains selaku ilmu-ilmu dasar mendahului ilmu-ilmu terapan.  Di samping itu, terdapat umpan balik dari ilmu-ilmu terapan yang menguntungkan dan mempercepat perkembangan sains dan matematika, misalnya hadirnya peralatan canggih hasil teknologi dalam kegiatan riset dan pengembangan sains, dan komputer sebagai sarana pengolahan matematis.

Perkembangan ilmu pengetahuan, matematika dan sains, bersumber pada dorongan rasa ingin tahu yang ada dalam diri manusia.  Manusia, sebagaimana kodratnya senantiasa mencari, berpikir, dan menalar sehingga dihasilkan berbagai ilmu pengetahuan, termasuk matematika dan sains.  Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan keberadaan motivasi dalam diri manusia untuk mempermudah, mengenakkan, dan menyejahterakan hidupnya, manusia berupaya untuk menerapkan sains dan matematika dalam rangka penciptaan berbagai keteknikan.

Perdagangan, perindustrian sdrta kegiatan lain-lain yang menopang ekonomi-keuangan suatu negara akhirnya memberi corak pada kegiatan penerapan sains itu dalam bentuk teknologi yang mengaitkannya dengan proses produksi yang ekonomis sehingga ikatan sains dan teknologi sangat erat.

Keharusan berprestasi untuk mengungguli saingan dalam industri dan perdagangan membuat bangsa-bangsa di dunia ini berpacu untuk secepatnya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).  Perekonomian yang maju dan meningkat dapat diharapkan mampu menaikkan kesejahteraan suatu bangsa, jika disertai dengan pengaturan pemerataan yang adil.  Atas dasar kenyataan ini semua, maka pendidikan yang menciptakan sumber daya manusia yang melek huruf, melek angka, dan juga sedikit-sedikitnya melek IPTEK, harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga dapat diberikan bobot yang mantap pada kemampuan peserta didik untuk dapat berpikir dengan logika, baik secara deduktif maupun induktif.

Dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia, khususnya melalui pendidikan, maka pelatihan dan pembiasaan bekerja melalui disiplin berpikir tersebut harus dimulai sedini mungkin.  Berbagai kemampuan yang mendukung daya penalaran seperti daya ingat, daya kognisi, kemampuan membedakan, dan mengkalisifikasi dapat mulai dilatihkan pada peserta didik usia sekolah dasar (6-7 sampai 11-12 tahun).  Sesuai dengan perkembangan kemampuan berpikir, peserta didik pada usia sekolah dasar berada pada periode operasional nyata.

Matematika dan sains dalam kenyataannya, di mana saja,  mulai diberikan secara serius pada jenjang pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), ketika peserta didik berumur antara 13 dan 15 tahun. Hal ini sesuai dengan periode operasional formal pada proses perkembangan kecerdasannya, yakni ketika peserta didik telah mulai memiliki kemampuan berpikir deduksi. 

 

II. KURIKULUM DAN SILABUS BAGI PENGEMBANGAN DAYA NALAR

Peserta didik, khususnya pada jenjang SLTP untuk pertama kali diperkenalkan dengan geometri Euklides yang mengemukakan axioma-axioma serta postulat-postulat cabang matematika tersebut.   Selanjutnya, diajarkan kepada peserta didik bagaimana axioma, postulat dan definisi-definisi serta konsep-konsep yang tak terdefinisikan (undefined terms) dipergunakan untuk menyusun teorema atau dalil satu-demi satu.   Masing-masing disertai dengan bukti yang mengikuti logika secara deduktif, sehingga terbentuk kerangka matematika yang bersangkutan.  Pemantapan disiplin berpikir di dalam cabang ilmu ini dilaksanakan dengan pemberian soal-soal yang pemecahannya memerlukan analisis, konstruksi, dan pembuktian secara rasional.  Latihan-latihan semacam itu dapat mempertajam kemampuan peserta didik untuk menentukan pilihan cara yang cepat dan benar dalam memecahkan suatu permasalahan (soal-soal).

Di samping itu, peserta didik diperkenalkan pula dengan sains yang didasarkan pada pengamatan terhadap gejala-gejala alamiah, pengukuran cermat, analisis data yang kritis, dan penalaran rasional, sehingga setelah diadakan generalisasi dari berbagai kesimpulan terungkaplah hukum-hukum alam.  Pada dasarnya dalam sainsdipergunakan metode induktif. Namun, setelah diketahui cukup banyak sifat-sifat alam raya, orang memberanikan diri menggunakan metode deduktif dengan berpangkal pada prinsip-prinsip dasar yang dicetuskan karena alasan-alasan tertentu, misalnya keyakinan bahwa alam diciptakan dengan keharmonisan, kesederhanaan dan sebagainya.  Contoh konkret adalah Teori Relativitas Umum Einstein.

Permasalahan mendasar yang dihadapi dalam kaitannya dengan penyusunan kurikulum pendidikan, beserta silabusnya, antara lain sebagai berikut:

1.     Bagaimana tata urutan penyampaian materi pelajaran diatur agar sesuai dengan proses perkembangan kemampuab berpikir para peserta didik dan sesuai dengan tingkat dan jenjang pendidikan masing-masing satuan pendidikan?

2.     Kapan waktu yang cocok untuk penyampaian program dan materi tersebut.  Misalnya, pada sekolah dasar apakah mulai catur wulan I, II, atau III?, dan mulai kelas berapa? Apakah kelas 1, 2, 3, atau kelas 4?. Untuk jenjang SMP mulai kelas berapa dan pada semester genap atau ganjil?

3.     Bagaimana mempertahankan kesatuan dan keutuhan materi yang diberikan pada setiap tingkat dan jenjang pendidikan?

4.     Apakah bahan kajian atau materi yang diberikan dapat saling membantu memahami materi bahan kajian yang lain?  Misalnya, pada jenjang pendidikan SMA, bagaimana keterkaitan bahan kajian matematika dengan bahan kajian fisika.

Berdasarkan hasil penelitian, analisis terhadap kurikulum, serta pengamatan pelaksanaan pengajaran baik pada jenjang sekolah dasar, sekolah lajutan tingkat pertama, maupun sekolah lanjutan tingat atas memberikan petunjuk antara lain: a) terdapat bahan kajian atau materi pelajaran yang belum diperlukan peserta didik, b) saratnya bahan kajian yang diberikan, dan c) ada bahan kajian yang disusun secara terpotong-potong dan tidak merupakan satu kesatuan yang utuh.

Kecuali dengan kuikulum serta silabus yang ditata dengan baik, kemampuan berpikir logis perlu dikembangkan dengan menghadapkan para peserta didik, secara teratur dan intensif, pada berbagai soal latihan yang memerlukan pemecahan secara sistematis dengan mempergunakan analisis dan penalaran, baik melalui metode induksi maupun deduksi.   Soal ujian atau ulangan sepantasnya tidak  diberikan dalam bentuk pertanyaan yang jawabnya pilihan ganda.  Sebab, cara ini pada umumnya tidak memacu peserta didik untuk berpikir, melakukan analisis dan menalar, karena tidak cukup waktunya, tetapi lebih banyak mengandalkan pada kemampuan menghafal dan keberanian menerka dengan untung-untungan.

Soal-soal dengan jawaban berpilih ganda akan menkondisikan peserta didik untuk mencari satu jawaban saja pada satu problem; padahal ada problem-problem yang dapat mempunyai jawaban lebih dari satu.  Banyak faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan ilmu-ilmu dasar, antara lain: kurikulum, silabus, cara penyajian materi, waktu yang disediakan, soal-soal latihan yang diberikan, macam ujian atau ulangan yang harus ditempuh.

Efek dari penanganan kurikulum, silabus dan pengujian yang tidak tepat akan membawa dampak yang negatif terhadap keberhasilan pendidikan. Kenyataannya akhir-akhir ini di mana-mana, di dalam negeri para dosen mengeluhkan mutu mahasiswanya yang mengikuti kuliah ilmu-ilmu dasar, dan di luar negeri beberapa universitas tidak mau lagi menerima lulusan SMA langsung sebagai mahasiswa, kecuali yang telah melewati kelas matrikulasi dan sejenisnya. Sudah barang tentu ada orang yang ingin menyanggah fakta ini dengan mengemukakan nama-nama mahasiswa yang berhasil.  Mereka ini sekalipun memperoleh pendidikan yang rendah mutunya di sekolah yang serba kekurangan, sarana maupun prasarananya, akan mampu mendisiplin diri, serta dengan kemauan yang kuat, mencari  jalan sendiri untuk menguasai bidang-bidang ilmu yang diminati sesuai dengan bakat mereka.

 

III. BERBAGAI MASALAH YANG TERKAIT DENGAN PENDIDIKAN MIPA

Kelemahan dalam bidang sains akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan bangsa kita untuk mengembangkan teknologi modern seperti bioteknologi dan rekayasa genetik, mikroelektronika dan superkomputer, teknologi material-canggih seperti superkonduktor- suhu- tinggi dan semikonduktor, dan lain-lainnya yang memerlukan masukan sains yang intensif, yang nanti akan sangat besar perannya dalam abad XXI.  Dunia yang dilanda globalisasi di banyak bidang, di mana banyak negara saling bersaing untuk keunggulan, sumber daya manusiawi yang lemah dalam IPTEK tidak akan ditolelir, karena padanya ada budaya menalar.  Bagi keberadaan suatu bangsa ia dapat merupakan ancaman dalam kompetensi yang kian sengit, dan merupakan hambatan yang serius bagi mereka yang berambisi untuk memainkan peranan di dalam percaturan dunia.  Oleh karena itu, langkah-langkah dalam pendidikan ilmu-ilmu dasar yang efeknya negative harus dicegah.

Penyajian materi suatu cabang sains yang akan mengaburkan keterkaitan subbagian-subbagiannya harus dihindari, misalnya dipotong-potong dan dicampuradukkan beberapa bagian cabang itu, sehingga urutan bahan kajian dalam satu tahun dan pada kelas yang sama tampak seperti berikut:  aljabar, logika, stereometri, planimetri, aritmetika, planimetri, dan komputer, serta aljabar, planimetri, geonometri, streometri, aljabar geometri analit, aljabar, komputer aljabar, dan statistika, serta komputer.  Lebih baik sajian itu menampakkan kaitan antara subbagian-subbagian yang membentuk suatu kelompok-subbagian atau subbagian-utama yang utuh, sehingga peserta didik dapat menguasai setiap subbagian cabang ilmu yang bersangkutan atau dasar penguasaan subbagian yang mendahuluinya.

Namun, bukan hanya kurikulum, silabus, cara penyajian materi, cara melatih berpikir, dan bentuk ujian saja yang harus dibenahi.  Ada beberapa unsur yang sangat penting peranannya, yang ikut menentukan berhasil tidaknya pendidikan ilmu-ilmu dasar dalam menanamkan disiplin berpikir yang dikehendaki yaitu pertama:  mutu peserta didik.  Bagaimanapun baiknya unsur yang lain, bila mutu mereka kurang memadai segala usaha yang akan dilakukan akan menjadi sia-sia belaka, ibarat mengukur kayu randu.  Tetapi, masalah ini mudah dipecahkan, yaitu dengan mengadakan saringan ketat yang sesuai dengan kebutuhan, pada saat penerimaan siswa pada masing-masing satuan pendidikan.  Namun, apabila mutu mereka rendah karena gurunya kurang mampu, maka persoalannya menjadi lain.  Unsur yang kedua ialah mutu guru, yang masalahnya lebih kompleks dan memerlukan penyelesaian yang menyeluruh, karena ia menyangkut banyak segi, termasuk kelembagaan pendidikan guru.

Permasalahan yang berkaitan dengan guru antara lain ialah bahwa mereka membutuhkan kesejahteraan hidup bagi dirinya dan keluarga, mereka tidak hanya ingin kecukupan sandang, pangan dan papan, tetapi juga ingin agar dapat menyekolahkan putera-puteri mereka dan menginginkan agar keluarga sehat.  Tanpa adanya jaminan kesejahteraan yang memadai, mereka akan pindah pekerjaan dan meninggalkan profesi mereka.

Selanjutnya, bagi mereka yang mengajar di perguruan tinggi, mereka juga memerlukan fasilitas kerja, seperti instrument untuk melakukan penelitian, perpustakaan yang memiliki majalah ilmiah dan buku-buku yang mutakhir, melakukan penelitian dan penyegaran ilmu, misalnya kemungkinan berkunjung ke luar negeri baik untuk mengikuti komperensi ilmiah maupun untuk mengikuti kuliah lanjut.  Tiadanya fasilitas ini akan membuat mereka terkucilkan dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Di samping itu, apabila mereka tidak menemukan rekan yang sebidang yang dapat saling asah dan asuh, serta saling mengumpani, karena cacah mereka dibawah masa kritis, maka mereka akan merasa terisolasi.  Isolasi dalam ilmu-ilmu dasar berarti stagnasi, dan kemacetan yang dialami seorang ilmuwan akan menjerumuskannya ke dalam kematian intelektual atau mereka hilang dari peredaran karena pindah profesi, atau hijrah ke negara maju di mana mereka telah menikmati pendidikan tingginya.

Gambaran situasi ini sedikit banyak berlaku juga bagi para pengajar bukan dosen, meskipun dalam kategori yang lain.  Misalnya, apa yang menyebabkan keterkucilan para guru dari perkembangan di bidangnya bukanlah tak adanya peluang untuk penyegaran di luar negeri, karena penyegaran tetap dapat diadakan di dalam negeri secara berkala di universitas-universitas yang merupakan pusat-pusat keunggulan.  Tetapi penelitian yang sebidang dalam kolokium atau ceramah-ceramah, yang memugkinkan mereka mendapatkan informasi yang mutakhir tentang kemajuan ilmu yang mereka ajarkan, dari tangan pertama.  Kelemahan ini akan dapat diatasi apabila organisasi profesional ilmiah telah berfungsi secara penuh, dengan memperluas kegiatannya yang meliputi ceramah-ceramah ilmiah di lingkungan guru-guru dan masyarakat pada umumnya, yang disajikan secara periodik oleh tokoh-tokoh ilmuwan di masing-masing bidang.

Kegagalan peserta didik untuk memahami matematika akan membuat fisika sebagai suatu bidang ilmu yang menakutkan serta menghantuinya; mereka enggan untuk mempelajari.  Selanjutnya, ketidakmampuan peserta didik untuk memahami fisika akan berakhir fatal bagi usaha bangsa untuk menguasai teknologi modern.

 

IV. SARAN KEBIJAKAN

1.       Pada dasarnya peserta didik yang berumur 7-12 tahun baru berada pada periode operasional nyata, maka bahan kajian yang memerlukan penalaran secara deduktif ketat (strict) belum dapat diberikan kepada mereka.  Karena itu, adalah bijaksana apabila diambil langkah untuk menekankan kembali berhitung (aritmatika) di SD.  Kemampuan berhitung dapat diberikan sedini mungkin kepada peserta didik di SD.

2.       Sejalan dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat, pendidikan untuk menciptakan sumberdaya manusia yang melek huruf dan melek angka serta sedikit-dikitnya melek IPTEK, harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga dapat memberikan bobot yang mantap kepada kemampuan peserta didik untuk dapat berpikir dengan logika, baik secara deduktif maupun induktif.

Meskipun berbagai kemampuan yang mendukung daya penalaran seperti daya ingat, daya kognisi, kemampuan membedakan, dan memperbandingkan, sampai dengan mengabstraksi, generalisasi dan mengklasifikasi dapat dilatihkan pada peserta didik umur 7 sampai 12 tahun, matematika dan ilmu pengetahuan alam (sains) dalam kenyataannya, baru mulai diberikan secara serius di Sekolan Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).  Hal ini sesuai dengan proses perkembangan kecerdasan peserta didik.  Pada usia antara 13 dan 15 tahun mereka berada pada periode operasional fomal, ketika mereka telah mulai memiliki kemampuan deduksi.

3.       Dalam penyusunan silabus dan kurikulum 1994 perlu diperhatikan agar materi yang diberikan merupakan satu kesatuan utuh, sesuai dengan masing-masing jenjang dan tingkat pendidikan.

Materi yang mestinya diberikan di SLTP jangan dipecah untuk diajarkan sebagian di SLTP dan sebagian lagi diajarkan di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), atau sebaliknya.

Hal lain yang tidak boleh dilakukan ialah memotong-motong materi yang bulat, sekalipun disajikan dalam satu satuan pendidikan yang sama, jika ia dapat diberikan secara utuh.  Tindakan memotong-motong materi yang bulat akan mengaburkan keterkaitan bagian yang satu dengan yang lain.

Selanjutnya, diharapkan agar tidak memasukkan bahan kajian yang belum diperlukan ke dalam silabus, karena hal ini akan mengurangi waktu kegiatan lain yang lebih penting.  Misalnya, memasukkan statistika di SLTP atau teori graf di SLTA.  Waktu yang tersedia sebanyak mungkin perlu dipergunakan untuk mengembangkan penalaran dan bukan untuk menghafal.

Tiap mata pelajaran harus diberi waktu yang cukup untuk pelaksanaan pengajaran, termasuk latihan.  Misalnya, apabila fisika, termasuk di dalamnya mekanika, dan kosmografi menurut pengalaman yang lampau memerlukan waktu lima jam per minggu, pada kurikulum 1994 hendaknya jangan disediakan tiga jam setiap minggu.

4.       Kemampuan berpikir nalar perlu dikembangkan dengan menghadapkan para peserta didik secara teratur dan intensif pada berbagai soal latihan yang memerlukan pemecahan secara sistematis dengan mempergunakan analisis dan penalaran, baik melalui metode induksi maupun deduks.  Soal ujian atau ulangan sepantasnya tidak diberikan dalam bentuk pertanyaan yang jawabannya pilihan ganda.  Cara ini pada umumnya tidak memacu peserta didik untuk berpikir, melakukan analisis dan menalar, karena tidak cukup waktunya, tetapi lebih banyak mengandalkan pada kemampuan menghafal dan keberanian menerka dengan untung-untungan.

Disamping itu, bentuk soal-soal dengan jawaban pilihan ganda akan mengkondisikan peserta didik untuk mencari hanya satu jawaban saja pada suatu problem, padahal ada problem-problem yang dapat mempunyai jawaban lebih dari satu.

5.       Dalam kaitannya dengan masalah yang dihadapi oleh para pengajar sains dan matematika dianjukan agar dibangun industri alat peraga, mainan edukatif misalnya mekano atau lego, yang dapat mengembangkan dan memacu daya nalar serta kreativitas anak-anak

Dalam memberikan perhatian terhadap pemecahan masalah menyangkut kesejahteraan dan fasilitas para tenaga kependidikan hendaknya kita tidak membatasi diri pada guru ilmu-ilmu dasar di luar perguruan tinggi saja, tetapi juga mencakup para dosen di dalamnya, sebab mereka tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu itu tetapi juga membina serta mengembangkannya.

 

 

Kembali ke Saran Pertimbangan