PENDIDIKAN SEDINI MUNGKIN

 KATA PENGANTAR

Pelayanan pendidikan sedini mungkin, khususnya pada usia kanak-kanak sangat penting artinya, terutama untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak sebelum memasuki Taman Kanak-kanak, jalur pendidikan sekolah. Perhatian masyarakat terhadap jenis pendidikan ini sangat besar. Hal ini tercermin antara lain dengan semakin menjamurnya berbagai bentuk dan jenis pendidikan prasekolah, misalnya Tempat Penitipan Anak, dan Kelompok Bermain.

Serangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan untuk mengkaji memorandum pandangan ini adalah menelaah hasil-hasil penelitian yang ada, mengadakan temu karya dengan para pakar dan pejabat yang menangani program pendidikan prasekolah, mengadakan kunjungan di daerah sekalian berdialog dengan guru dan anggota masyarakat setempat. 

Berdasarkan kesepakatan pendapat anggota BPPN, penyususunan memorandum pandangan ini dikoordinasikan Ibu Umar Wirahadikusumah yang dibantu oleh Bapak Prof. Dr. Moegiadi, M.A.

Semoga pemikiran-pemikiran yang merupakan saran dan pendapat Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN), kiranya dapat dimanfaatkan untuk  merumuskan kebijakan pendidikan ataupun menilai pelaksanaan kebijakan pendidikan prasekolah.

 

I. LATAR BELAKANG

A.      Tujuan Pendidikan

Manusia dapat berkembang melalui proses yang disebut belajar. Mulai dari bayi yang belajar minta susu sampai pada belajar yang lebih kompleks lagi. Belajar, yaitu usaha untuk mencapai perubahan, dapat bersifat positif, tetapi dapat pula menjadi negatif. Karena dampak dari belajar dapat bersifat positif maupun negatif maka masyarakat menganggap mutlak untuk membimbing anak dalam proses belajar, agar anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi dewasa sesuai dengan norma-norma hidup masyarakat. Dari proses tersebut lahirlah pendidikan yang bertugas mendidik anak dan mengerahkan semua pengalaman belajar supaya perkembangan anak berlangsung sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, maka lingkungan masyarakat luas, lingkungan keluarga inti, lingkungan sekolah, semuanya memikul tanggung jawab pendidikan meskipun dalam satuan sosial yang berbeda-beda.

Dalam pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional,”…pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang,” sedangkan “…pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan yang berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,” (pasal 1 ayat 2).

Pada Pasal 4, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Dari uraian tentang tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) tersebut jelaslah bahwa pendidikan anak Indonesia sudah diarahkan ke arah yang positif. Hal-hal apa yang harus dipelajari oleh anak, pengalaman-pengalaman apa yang harus diperoleh anak sudah jelas. Para perancang kurikulum berkewajiban menjabarkan tujuan tadi, menetapkan pokok-pokok pengalaman belajar dan organisasi kurikulum yang diperlukan.

 

B.      Pendidikan Sedini Mungkin

Pada usia berapakah seseorang sebaiknya mendapatkan pendidikan? Sejak bayipun seorang anak sudah mulai belajar. Pada kenyataannya para ahli ilmu perilaku merasa bahwa dasar untuk semua perkembangan berikutnya baik fisik, sosial dan psikologis terjadi pada tahun-tahun awal dari kehidupan anak selanjutnya. Jadi, apa yang harus dipelajari oleh anak pada usia awal hendaknya berpengaruh positif bagi perkembangan sosial, emosional dan intelektual anak dan keseluruhan perkembangan pribadinya secara utuh.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah, diuraikan bahwa Pendidikan Prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar. Pendidikan prasekolah bertujuan untuk membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Jadi, pendidikan yang diutamakan untuk anak pada usia-usia awal adalah pendidikan untuk membuat anak itu dapat berkembang dengan optimal.

Hal yang paling penting harus disadari dalam pendidikan anak adalah keharusan kita untuk memahami anak itu sendiri. Anak memerlukan pengalaman yang cocok dengan tingkat perkembangannya. Jika seorang anak mulai belajar untuk memegang sesuatu maka harus diberikan kepada anak kesempatan untuk menggenggam benda, tangan kita dan barang-barang lain yang dapat digenggam.

Sejumlah studi jangka panjang (“longitudinal”) yang berupaya mengungkapkan pemahaman terhadap perkembangan manusia kelihatannya mendukung teori-teori perkembangan anak yang selama ini dijadikan pegangan di banyak negara. Menurut salah satu studi yang diajukan oleh UNESCO (MK. Pringel 1974), pengetahuan bagi pemahaman tentang anak meliputi tiga hal yang perlu mendapat perhatian:

1.     perkembangan berbagai karakteristik dasar pada tahun-tahun pertama (sejak lahir sampai usia enam tahun) berlangsung dalam tenggang waktu maupun kecepatan yang tidak sama;

2.     masa perkembangan sebagian besar aspek mengalami kepesatan yang paling tinggi pada tahun-tahun pertama, diikuti oleh masa di mana kecepatannya secara berangsur berkurang;

3.     pengaruh lingkungan sangat besar selama masa cepatnya perkembangan anak. Dapat disimpulkan bahwa berbagai pengalaman dan kesempatan pada tahun-tahun pertama kehidupan anaklah yang benar-benar sangat menentukan atau vital bagi perkembangannya.

Masa lima sampai enam tahun pertama dalam kehidupan seorang manusia merupakan masa di mana perkembangan fisik dan motorik, intelektual maupun sosial berlangsung dengan sangat cepatnya sehingga seringkali disimpulkan bahwa sejauh mana keberhasilan pada masa ini menentukan seluruh masa depan seorang anak. Pada kenyataannya sejumlah besar studi mendukung ini dan mengungkapkan bahwa pada masa inilah sejumlah besar kemampuan berbahasa, sikap, nilai-nilai, bahkan cara-cara belajar seorang manusia mulai mengambil bentuk dasarnya, dan cenderung menetap sampai usia dewasa. Keterampilan-keterampilan tersebut merupakan keterampilan dasar yang harus dikembangkan secara optimal agar potensi yang ada pada anak tidak hilang percuma. Keterampilan-keterampilan tersebut tidak terjadi secara alamiah tetapi harus didukung oleh lingkungan, baik orang tua dan keluarganya maupun masyarakat lain. Dengan demikian pada tempatnyalah bila usia prasekolah di bawah usia enam tahun perlu mendapat perhatian secara terus-menerus.

Pada tahun-tahun lampau pusat perhatian orang dewasa kepada anak ditujukan pada kesehatannya. Hal ini dapat dimaklumi karena pada waktu itu angka kematian anak di bawah usia lima tahun cukup tinggi. Pada saat ini berkat adanya Pusat Kesehatan masyarakat (Puskesmas), Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan sebagainya, usaha kesehatan anak telah jauh lebih baik. Tetapi di samping itu, usaha pendidikan anak di bawah usia lima tahun jauh tertinggal. Hal ini dapat diketahui dengan melihat kenyataan masih cukup banyak anak Indonesia yang mendapat perlakuan buruk dari orang dewasa, dan banyaknya anak yang mendapat pengasuhan yang tidak konstruktif. Hal ini menyebabkan potensi-potensi anak yang seharusnya dapat berkembang secara optimal pada usia dini terabaikan atau bahkan menjadi penghambat bagi perkembangan anak berikutnya. Seharusnya para pendidik lebih mengarahkan perhatian pada pendidikan anak, khususnya pendidikan prasekolah agar tujuan membentuk manusia Indonesia seutuhnya seperti yang dicita-citakan dapat tercapai. Lebih awal pendidikan yang konstruktif diberikan kepada anak lebih mudah membentuknya ketika anak dewasa nanti.

Sudah lama didengungkan oleh para ahli bahwa anak bukanlah orang dewasa dalam ukuran kecil, anak bukan orang dewasa dalam ukuran mini. Oleh karenanya maka anak harus diperlakukan sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya.

 

II.PENTINGNYA ANAK SEBAGAI SUMBER DAYA MANUSIA

 

Dari uraian tentang perkembangan anak terlihat bahwa banyak faktor kepribadian dan intelektual anak yang sangat menentukan perkembangan anak di masa berikutnya. Oleh sebab itu, penanganan yang konstruktif terhadap pendidikan sedini mungkin sudah harus dipikirkan. Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1949 tentang Kesejahteraan Anak terdapat alasan yang kuat untuk penanganannya. Disebutkan bahwa anak adalah potensi serta penerus cita-cita bangsa dan oleh karenanya mereka perlu diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar secara rohani, jasmani dan sosial. Mengingat bahwa anak adalah “asset” bangsa, maka menjadi tanggung jawab kita untuk mempertinggi nilai “asset” tersebut. Untuk menjadi manusia yang berkualitas mereka harus menerima pendidikan yang berkualitas pula sejak dini.

Menurut Undang-Undang Kesejahteraan Anak yang disebut sebagai anak adalah seseorang yang belum mencapai usia 21 tahun dan belum bekerja. Pendidikan anak wajib dilakukan oleh negara mulai umur 7-12 tahun (dapat dimulai pada umur 6 tahun di SD), dan pada masa yang akan datang akan diperluas lagi menjadi wajib belajar 9 tahun. Ini berarti bahwa dari umur 6 atau 7 tahun sampai kira-kira 17 tahun pendidikan anak sudah diperhatikan oleh negara. Tetapi bukan berarti sebelum umur 7 tahun pendidikan anak akan terabaikan. Mengingat pentingnya pendidikan dini pada anak maka walaupun tidak wajib, pendidikan anak umur sebelum 6 atau 7 tahun tetap harus diperhatikan.

 

III.PELAYANAN PENDIDIKAN SEDINI MUNGKIN DI INDONESIA

 

A.    Peran Keluarga

Terdapat bermacam-macam bentuk keluarga. Bentuk keluarga tertentu menentukan bentuk hubungan sosial anak-orangtua. Bentuk hubungan ini menentukan perkembangan kepribadian dan perilaku anak. Bentuk yang umumnya ada adalah bentuk keluarga inti yaitu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anaknya. Jika terdapat keluarga di mana ada saudara-saudara atau orang-orang lain yang tinggal di rumah itu maka bentuk keluarga ini disebut sebagai keluarga batih. Untuk keluarga di mana salah satu dari orang-tuanya tidak ada maka keluarga dengan orang tua tunggal.

Keluarga batih banyak terdapat di Indonesia. Bentuk keluarga ini memiliki keuntungan bagi keluarga yang suami-istri bekerja. Orang lain yang biasanya tinggal di rumah itu yang masih mempunyai hubungan keluarga dapat membantu memelihara anak-anak mereka.

Banyak kesulitan yang akan dialami oleh anak yang terpisah dari salah satu atau kedua orang-tuanya. Dapat karena mereka meninggal, pergi jauh untuk belajar ataupun karena perceraian. Yang condong mempunyai dampak sangat negatif terhadap perkembangan anak adalah perceraian. Reaksi anak terhadap perceraian orang-tua adalah bermacam-macam bentuknya, ada yang merasa berdosa karena merasa mereka penyebabnya, atau membenci menyalahkan kedua orang-tuanya yang telah meninggalkannya, ada pula yang justru bersikap acuh tak acuh pura-pura tidak ada hal yang buruk telah terjadi. Akibat yang dapat ditimbulkan oleh perceraian orang-tua pada anak adalah adanya kesulitan belajar dan kesulitan berhubungan dengan orang lain.

Orang-tua mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan kepribadian anak. Kepribadian orang-tua itu sendiri juga mempengaruhi cara pengasuhan anak.

Pola asuh dari orang tua umumnya ditentukan oleh dua hal sebagai berikut:

1.     Penerimaan-penolakan, yaitu perilaku orang tua yang bersikap menerima, hangat, penuh kasih sayang, dibanding dengan bentuk tingkah laku orang tua yang bersifat menolak, atau membenci. Orang tua yang bersikap menerima, kasih sayang dan hangat akan membantu anak untuk menjadi bertanggung jawab dan penguasaan diri tinggi. Sebaliknya orang tua yang membenci anaknya akan menimbulkan rasa permusuhan.

2.     Terkontrol-kebebasan, yaitu keketatan atau kelonggaran orang tua untuk memaksakan aturan terhadap anak. Orang tua yang sangat ketat mengontrol anak biasanya mempunyai anak yang bertingkah laku baik tapi ketergantungannya tinggi. Sedangkan yang memberi banyak kelonggaran akan mendapatkan anak yang mudah menyesuaikan dan condong menampilkan kepribadiannya (assertive).

Orang tua kurang menyadari bentuk pengasuhan yang diterapkan kepada anaknya. Umumnya mereka melakukan pengasuhan tersebut tidak pada ekstrem tertentu, tetapi berada diantaranya.

Selain bentuk pengasuhan tersebut, beberapa ahli juga mengelompokkan bentuk pengasuhan orang tua berdasarkan cara menerapkan disiplin di rumah. Cara pengasuhan tersebut dibagi dalam tiga kelompok, yaitu pola asuh otoriter, demokratis, dan yang penuh dengan kelonggaran.

1.     Pola asuh otoriter, adalah pola asuh yang menekankan pada otoritas orang tua daripada berdasarkan penalaran. Di sini disiplin diterapkan dengan cara pemaksaan dan harus dipatuhi. Pola asuh macam ini kadang-kadang menjadi sebab dari kenakalan remaja, dan kejahatan remaja yang lain. Kebanyakan pola asuh semacam ini menghasilkan anak yang patuh hanya apabila orang tua ada. Ada kecenderungan mereka menjadi “pemberontak” ketika telah cukup dewasa. Sebaliknya ada pula anak yang justru menjadi penggugup, tidak bisa berdiri sendiri. Bahkan beberapa ahli menyebutkan adanya pengaruh pola asuh ini pada anak gagap. Pada pola asuh otoriter orang tua umumnya tidak menekankan pada memberi penjelasan pada anak. Anak diharapkan menerima saja apa yang diharapkan oleh orang tua tanpa perlu bertanya karena itulah yang dikatakan orang tua. Di sini penghargaan orang tua terhadap hasil kerja anak hasilnya juga rendah tetapi pemberian hukuman karena lalai sering dilakukan yang tidak jarang berbentuk fisik.

2.     Pola asuh demokratis, dalam pola asuh ini orang-tua tetap pemegang kendali keputusan peraturan yang harus diterapkan, tetapi anak-anaknya boleh menyatakan ketidaksetujuannya dan bila perlu orang-tua akan mengubah peraturan dengan pertimbangan anak. Di sini baik orang tua maupun anak-anak mempunyai tanggung jawab terhadap tindakan masing-masing. Jadi disiplin yang diterapkan dalam pola asuh ini mengandung penjelasan dan alasan.

Pola asuh semacam ini banyak dilakukan oleh keluarga yang berlatar belakang pendidikan formal tertentu. Hasil yang didapat dari pola asuh ini umumnya positif, yaitu kemampuan untuk mandiri, percaya diri tinggi dan umumnya mempunyai motivasi untuk berprestasi tinggi pula.

3.     Pola asuh kelonggaran, di sini biasanya orang tua tidak memiliki keinginan untuk membuat anak-anaknya mematuhi peraturan tertentu. Jikapun ada disiplin, biasanya disiplin tersebut dijalankan tidak dengan konsisten dan tidak dapat diperkirakan. Para ahli menyatakan bahwa dalam pola asuh macam ini anak diharapkan memperoleh pelajaran tentang tingkah laku mana yang baik dan buruk dari masyarakatnya. Efek dari pola asuh ini kurang jelas. Tetapi ada peneliti yang menyatakan pola asuh ini cukup mengembangkan rasa percaya diri, kreativitas, dan kemandirian. Peneliti lain menyatakan bahwa pola asuh ini mempunyai dampak harga diri (self esteem) anak rendah.

Perkembangan anak juga sangat dipengaruhi oleh keberadaan orang tua, terutama ibu dalam kehidupan sehari-hari anak. Kita percaya bahwa anak akan berkembang lebih baik jika mereka tumbuh di lingkungan keluarga sendiri. Ibu merupakan tokoh sentral dalam kehidupan anak pada usia awal. Tetapi dalam tahun-tahun terakhir ini fungsi ibu sebagai pemelihara dan pengasuh anak di rumah telah banyak bergeser. Banyak ibu yang meninggalkan rumah dan anak setiap hari dalam waktu yang cukup lama. Mereka menjadi pekerja. Ada beberapa alternatif yang dilakukan oleh para ibu untuk menggantikan kedudukannya di rumah. Di masyarakat kita fungsi saudara dan pembantu rumah tangga sangat penting dalam mengatasi persoalan ini. Tetapi mengingat pendidikan sedini mungkin sangat perlu maka perlu ada alternatif lain untuk mengatasi kekurangan pengganti ibu.

Banyak ahli Barat mengemukakan bahaya dari terpisahnya anak dari ibunya. Pengalaman semacam ini mempunyai dampak yang negatif terhadap perkembangan intelektual, emosi, sosial, dan penguasaan bahasa anak-anak yakni anak-anak di negara-negara industri di mana sudah tidak terdapat kesatuan keluarga nuklir, seperti di Indonesia. Di satu pihak anak kehilangan rasa kasih sayang yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangannya, di pihak lain anak tidak mendapatkan cukup rangsangan dalam bentuk sosial ataupun kebendaan. Di masa yang akan datang dampak terpisahnya anak dari ibunya mungkin bisa juga terjadi di negara kita sebagai akibat dari industrialisasi dan perubahan sistem nilai.

Di kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita terdapat suatu program yang bertujuan meningkatkan keterampilan ibu dalam mengasuh dan mendidik anak pada usia balita untuk membentuk manusia Indonesia yang berkualitas. Program tersebut disebut sebagai Program Bina Keluarga dan Balita (Kantor Menteri Negara urusan Peranan Wanita, tanpa tahun). Di samping itu, di Indonesia banyak organisasi-organisasi sosial yang bertujuan menampung, memberikan pendidikan maupun memberikan dana untuk usaha kesejahteraan anak.

 

B.    Peranserta Masyarakat

1.     Tempat Penitipan Anak

Tempat Penitipan Anak (TPA) ialah lembaga kesejahteraan sosial yang memberikan pelayanan pengganti berupa asuhan, perawatan dan pendidikan bagi anak balita selama ditinggal ibu bekerja. Di samping itu, TPA juga memberikan konsultasi dan bimbingan kesejahteraan keluarga kepada ibu-ibu penitip, terutama masalah anak yang dititipkan.

Tujuan dari TPA adalah:

a.      membantu ibu-ibu agar dapat bekerja dengan tenang sehingga dicapai prestasi kerja yang optimal;

b.     menghindarkan anak dari kemungkinan terlantarnya pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani, dan sosialnya secara wajar.

Seperti diketahui, pada tahun-tahun belakangan ini angkatan kerja wanita semakin banyak. Walaupun tidak ada data yang cukup menunjang, tetapi dilihat dari berbagai informasi dari berbagai media, ibu yang meninggalkan anaknya dari tahun ke tahun semakin besar jumlahnya. Di masa lampau banyak anak yang ditinggalkan ibunya bekerja dan mereka tinggal di rumah dengan saudara orang tua atau pembantu rumah tangga. Pada saat ini kemungkinan-kemungkinan itu semakin sempit. Mobilitas penduduk makin tinggi, banyak orang yang terpisah dari saudara-saudaranya sehingga harus hidup sendiri. Juga karena makin banyak pabrik, banyak orang desa yang tidak mau menjadi pembantu rumah tangga tetapi lebih memilih menjadi buruh pabrik. Dalam situasi sulitnya mencari saudara atau pembantu rumah tangga untuk menunggu anak di rumah alternatif TPA adalah alternatif yang lebih baik.

Penitipan anak dapat dilakukan untuk anak mulai umur tiga bulan sampai umur lima tahun. Setelah umur lima tahun diharapkan anak sudah mendapatkan pendidikan khusus di taman Kanak-kanan. Di TPA anak dapat tinggal setiap hari, kecuali hari Minggu dan hari libur dari pukul 08.00-15.00.

Kegiatan bimbingan sosial yang dilakukan untuk anak, meliputi:

a.        pengasuhan, yaitu pemenuhan kebutuhan fisik, perhatian, kasih sayang, dan disiplin hidup sehat.

b.       Perawatan, yaitu pengobatan untuk penyakit ringan, imunisasi, pemberian vitamin dan pemberian obat cacing.

c.        Bimbingan peningkatan kemampuan anak, yaitu penciptaan relasi dalam kelompok sebaya, penyiapan anak ke pendidikan prasekolah, penanaman keberanian serta penyesuaian diri dengan lingkungan;

d.       Rekreasi, bertujuan untuk menghilangkan kejenuhan, pengenalan alam lingkungan, melatih motorik dan merangsang daya pikir dan kreativitas anak.

Terdapat beberapa jenis TPA, yaitu TPA untuk perkantoran, pasar, lingkungan perkebunan dan keluarga. Yang paling banyak jumlahnya adalah TPA perkebunan. Umumnya dikelola oleh perusahaan perkebunan masing-masing.

2.     Kelompok Bermain

Kelompok bermain dan Taman Kanak-kanak termasuk dalam satu kelompok pendidikan prasekolah. Pada umumnya anak umur 2-4 tahun dimasukkan ke Kelompok Bermain sedang anak 4-6 tahun dimasukkan ke Taman Kanak-kanak. Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah terdapat beberapa pasal yang menerangkan kedudukan Tempat Penitipan Anak (TPA), Kelompok Bermain (KB), dan Taman Kanak-kanak (TK).

Taman Kanak-kanak berada di jalur pendidikan sekolah sedangkan Kelompok Bermain dan Penitipan Anak berada di jalur pendidikan luar sekolah. Pembinaan usaha kesejahteraan anak TPA dan KB menjadi tanggung jawab Menteri Sosial, sedangkan pembinaan pendidikannya menjadi tanggung jawab Menteri Pendidikan Nasional. Kelompok Bermain dan Penitipan Anak pendidikannya harus dapat diikuti oleh anak dengan usia sekurang-kurangnya tiga tahun.

Walaupun dalam peraturan pemerintah terlihat perbedaan yang jelas antara Taman Kanak-Kanak dengan Kelompok Bermain, tetapi pada kenyataan di lapangan kedua pendidikan prasekolah tersebut hampir sama. Dalam hasil survai Kelompok Bermain dan masalahnya di Indonesia (Lola Aswin, 1982) ditemukan adanya kesamaan antara Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak. Kesamaan tersebut adalah:

a.        bertujuan mengembangkan seluruh aspek perkembangan fisik, mental, emosi, dan sosial anak;

b.       menampung anak yang berusia 3-6 tahun;

c.        isi programnya merupakan penjabaran dan petunjuk pelaksanaan dari tujuan pendidikan masing-masing;

d.       tenaga pendidiknya umumnya lulusan SPG, SGTK, dan SMA.

Walaupun mempunyai banyak persamaan, Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak mempunyai perbedaan pula. Perbedaan tersebut adalah:

a.      frekuensi kehadiran anak didik. Di Taman Kanak-kanak 6 hari seminggu, 3 jam sehari, sedangkan di Kelompok Bermain 2-3 hari seminggu selama 2-3 jam sehari.

b.     Di Taman Kanak-kanak sudah ada program kegiatan belajar baku yang dapat digunakan untuk seluruh Indonesia, di Kelompok Bermain belum;

c.      Perbedaan-perbedaan dalam biaya pendidikan dan status sosial ekonomi orang tua.

Dari hasil Seminar Pendidikan Prasekolah yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan pada 28 Februari - 1 Maret 1990 di Jakarta ditarik kesimpulan bahwa batasan umur anak yang masuk ke Kelompok Bermain 2 - 4 tahun sedangkan Taman Kanak-Kanak 3 - 6 tahun. Anak-anak Taman Kanak-kanak dikelompokkan dalam 3 kelompok yaitu Kelompok A (3 - 4 tahun), Kelompok B (4 - 5 tahun), dan Kelompok C (5 - 6). Anak-anak Kelompok Bermain dikelompokkan dalam suatu kelompok yang jenjangnya sesuai dengan Kelompok A di Taman kanak-kanak. Karena TK dan KB mempunyai prinsip bermain sambil belajar maka umumnya mereka menyediakan tempat bermain di dalam kelas dan di luar kelas. Umumnya bermain di dalam kelas dilakukan secara terpimpin. Alat permainan yang ada di dalam kelas adalah lego, balok, bola, puzzle, mobil-mobilan, dan lain-lain. Di samping itu, berdasarkan kurikulum, kelas permainan mereka dibagi dalam beberapa sudut, yaitu sudut ke-Tuhanan, sudut keluarga, sudut kebudayaan, sudut membangun dan sudut alam sekitar. Tempat bermain di luar kelas berisi ayunan, bak pasir, bak air, perosotan, jungkitan, papan titian, gorong-gorong, alat panjat, sepeda-sepedaan, mobil-mobilan, dan sebagainya.

Umumnya kelas mereka dilengkapi dengan alat bercerita (buku-buku bergambar, panggung boneka, papan panel, gambar seni, dan lain-lain) dan alat untuk bernyanyi dan menari (tape recorder, kaset, alat-alat musik sederhana dan lain-lain).

Dari uraian tentang alat permainan yang dimiliki oleh TK dan KB terlihat bahwa TK dan KB memerlukan alat-alat yang relatif cukup mahal. Kalaupun dapat dibuat sendiri dibutuhkan kreativitas dan kemauan guru untuk membuatnya. Hal ini merupakan salah satu hambatan pengembangan TK dan KB di pedesaan.

Pengembangan pendidikan di TK dan KB lebih ditekankan pada pengembangan kemampuan-kemampuan anak sesuai dengan umurnya. Kemampuan-kemampuan tersebut adalah kemampuan berbahasa, daya pikir, sosial, emosional, moral, motorik (baik kasar maupun halus) serta menolong diri sendiri. Dalam pengembangan kemampuan berbahasa mereka belum diajarkan untuk membaca tetapi sudah diajarkan untuk mengenal huruf sebagai persiapan mereka belajar membaca di sekolah dasar. Yang lebih ditekankan dalam pendidikan berbahasa adalah kemampuan anak untuk mendengarkan dan kemampaun berbicara.

Dalam pengembangan kemampuan daya pikir, selain anak belajar pengurangan dan penambahan yang sederhana. Yang penting diajarkan dalam daya pikir adalah posisi, banyak sedikit, bentuk geometri sederhana, mengelompokkan, mengetahui sesuatu, dan sebagainya.

Dalam motorik halus anak diajarkan mulai dari membuat coretan yang tidak berarti sampai pada menulis angka. Anak juga belajar menggambar dengan berbagai macam alat gambar, serta kegiatan-kegiatan lain untuk mengembangkan motorik halus anak.

Pada pengembangan berbahasa, daya pikir dan motorik halus, kemampuan daya cipta anak melalui ketiga hal tersebut tidak kita lupakan.

Selain itu, anak juga mengembangkan kemampuan motorik khususnya melalui berlari, memanjat, melempar, menendang, menari, dan permainan ekspresionis. Tidak dilupakan adalah mendidik anak mandiri dalam kegiatan-kegiatan pribadi anak. Pengembangan sosial, moral, dan emosional anak lebih banyak dilakukan dalam kegiatan sehari-hari anak seperti bermain bersama teman, disiplin, gotong royong, tidak cengeng, membantu teman dan guru, dan sebagainya. Semua pengembangan-pengembangan tersebut diberikan sesuai dengan kemampuan anak.

 

IV. SARAN DAN PENDAPAT

 

1.     Pendidikan bagi orang tua tentang cara mendidik anak

Mengingat begitu pentingnya pendidikan anak sedini mungkin maka orang tua perlu dibekali pengetahuan tentang perkembangan anak dan pendekatan serta cara mengembangkan kemampuan-kemampuan anak. Di Indonesia usaha ini telah dilakukan terutama oleh kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita dalam bentuk Program bina Keluarga dan Balita (PBKB). Program ini baru saja diselenggarakan dan masih dalam proses pengembangan dalam lingkup yang terbatas.

Kebutuhan pengetahuan tentang perkembangan anak dan cara mendidik anak diperlukan terutama bagi pasangan-pasangan muda yang baru menjalani kehidupan berumah tangga, baik di desa maupun di kota, untuk golongan sosial ekonomi rendah dan tinggi. Pengetahuan dan informasi semacam ini jarang diperoleh pasangan muda. Kurikulum di sekolah umum tidak banyak menyinggung tentang hidup berkeluarga dan cara memelihara dan mendidik anak. Pasangan muda hanya memperoleh pengetahuan dari orang tuanya dengan cara mangingat bagaimana orang tuanya dulu memelihara dan mendidik mereka. Ilmu kesehatan dan psikologi telah begitu berkembang sehingga pengetahuan yang diperoleh orang tua mereka mungkin telah ketinggalan zaman. Kebutuhan untuk mendidik anak secara konstruktif dan terarah sangat dibutuhkan untuk mengembangkan manusia Indonesia yang berkualitas yang tetap kokoh diterpa perkembangan zaman. Dalam hubungan ini, sudah waktunya untuk memanfaatkan potensi yang ada pada program pendidikan berkelanjutan dengan mengisi program dan acara yang relevan dengan kebutuhan orang tua untuk mendidik anaknya secara tepat dan terarah.

2.     Pengawasan yang ketat terhadap program dan praktek pendidikan di TK

Kurang lengkapnya pengetahuan dan kesadaran para pelaksana dan pengelola pendidikan di kebanyakan TK dapat menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak didik kita di TK. Memperlakukan anak didik prasekolah sebagai manusia dewasa berukuran kecil adalah suatu kekeliruan besar. Penerapan konsep yang tidak tepat ini masih terlihat pada praktek-praktek pendidikan di TK seperti kekeliruan dalam program pendidikan (kurikulum) dengan memaksa anak didik menguasai tujuan-tujuan pelajaran yang sepantasnya untuk peserta didik SD. Begitupun halnya pada upacara-upacara resmi di TK.

3.     Pendidikan sedini mungkin hendaknya juga mencakup anak di pedesaan dan anak dari orang tua yang berkedudukan sosial ekonomi rendah.

Indonesia sebagai negara agraris penduduknya lebih banyak yang tinggal di pedesaan. Umumnya mereka bermatapencaharian sebagai petani dan nelayan. Pendidikan mereka tidak terlalu tinggi. Penghasilan mereka pun rendah. Dengan situasi sosial ekonomi semacam itu mereka membesarkan anak-anaknya. Hasil penelitian Lembaga Riset Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menunjukkan bahwa kecerdasan anak-anak mereka tergolong rendah. Ini terjadi karena mereka kurang mendapatkan rangsangan mental yang berguna untuk mengembangkan kemampuan mereka, terutama kemampuan berbahasa dan daya pikir. Dalam kemampuan berbahasa, masa kanak-kanak adalah masa yang penting untuk pengembangan perbendaharaan kata. Seberapa banyak perbendaharaan kata anak tergantung dari kesempatan anak untuk belajar kata-kata baru. Hal ini akan diperoleh melalui:

a.       kesempatan bermain dengan alat bermain yang sederhana dan dengan anak lain;

b.       mendengarkan radio dan televisi;

c.       mendengarkan cerita, dan lain-lain.

Mengingat situasi tersebut, maka KB dan TK justru lebih penting bagi anak di pedesaan. Mereka memerlukan rangsangan mental yang lebih banyak yang tidak mereka dapatkan di rumahnya dan dari orang tuanya. Begitu juga pada anak-anak yang hidup di perkotaan tetapi berasal dari orang tua dengan sosial ekonomi rendah, mereka memerlukan rangsangan sejenis seperti kebutuhan anak pedesaan yang tidak tersedia dari lingkungannya.

4.     Tempat penitipan anak lebih banyak didirikan dengan subsidi dari pemerintah ataupun swasta.

Tempat penitipan anak muncul dari adanya kebutuhan pasangan yang dua-duanya bekerja untuk menitipkan anaknya di tempat yang layak agar mereka dapat bekerja dengan tenang. Suami istri bekerja karena umumnya kebutuhan hidup mereka tidak mencukupi kalau hanya salah seorang saja yang bekerja. Jadi umumnya beban hidup mereka sudah cukup tinggi; di samping berupa upaya peningkatan peran wanita dalam pembangunan. Sebaliknya, untuk berdiri sebagai Tempat Penitipan Anak yang layak dibutuhkan biaya operasional yang cukup besar. Biaya tersebut tidak mungkin dapat dibebankan sepenuhnya kepada orang tua yang menitipkan anaknya di tempat tersebut, mengingat beban hidup mereka juga sudah cukup tinggi. Kebutuhan akan tempat penitipan anak dari tahun ke tahun semakin tinggi. Banyak angkatan kerja wanita yang masuk ke dunia kerja dengan pikiran yang bercabang antara ketakutan menelantarkan anak yang ditinggal di rumah dengan kebutuhan untuk memenuhi kehidupan yang lebih banyak.

Mengingat pentingnya Tempat Penitipan Anak, sebaiknya dicari alternatif-alternatif pendirian Tempat Penitipan Anak yang dapat disubsidi oleh pemerintah, swasta atau masyarakat. TPA tersebut dapat disubsidi oleh kantor/pabrik/perusahaan di mana banyak pekerjanya membutuhkan tempat semacam itu.

5.     Dibutuhkan koordinasi ataupun pembagian wewenang yang lebih tajam antar departemen untuk mengelola pendidikan anak sedini mungkin.

Pendidikan anak sedini mungkin tidak mungkin dapat dilakukan oleh Departemen Pendidikan dan kebudayaan sendiri. Perlu pembagian wewenang dan koordinasi dengan departemen lain karena menyangkut pendidikan terpadu untuk orang tua, pasangan muda tentang kesejahteraan serta pendidikan anak. Karena itu, perlu dikembangkan pola koordinasi dan kerja sama yang lebih rapi antara Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Sosial, kantor Menteri Urusan Peranan Wanita, Departemen Penerangan, dan Departemen/Lembaga/Yayasan lain yang terkait.

6.     Perlunya data statistik yang sangat diperlukan untuk menentukan kebijakan tentang pendidikan anak sedini mungkin.

Untuk menetapkan kebijaksanaan dan prioritas program diperlukan data yang akurat. Berbagai jenis dan tingkatan data yang diperlukan (komprehensif, sahih, terandalkan, tepat waktu, akuran, praktis) pada saat ini tidak tersedia. Tidak banyak pengetahuan yang kita miliki misalnya, tentang jumlah anak prasekolah yang berada di TPA, KB, dan TK; kelengkapan sarana/prasarana pendidikan bagi mereka; jenis-jenis program kesejahteraan dan kegiatan pendidikan; pengetahuan pasangan muda dan orang tua pada umumnya tentang pendekatan dan cara mendidik dan meningkatkan kesejahteraan anak; kecenderungan pola asuhan dan data lainnya. Karena itu disarankan juga mengumpulkan data semacam ini dalam indikator sosial-ekonomi dan pendidikan.

 

KEMBALI KE MENU SARAN PERTIMBANGAN

KEMBALI KE MENU UTAMA