PENDIDIKAN INDONESIA BAGIAN TIMUR

 

KATA PENGANTAR

Memorandum pandangan (position paper) ini memuat pokok-pokok pikiran Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN) mengenai pendidikan di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur.

Bertitik tolak dari keadaan dan kondisi wilayah geografis di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur, dan tersedianya sumber daya manusia dan sumber daya alam yang sangat luar biasa besarnya yang belum dapat didayagunakan secara optimal, BPPN menganggap bahwa sudah waktunya pembangunan pendidikan di wilayah tersebut perlu mendapatkan perhatian yang serius, agar upaya menyiapkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dapat tercapai. Mengingat keadaan geografis dan penyebaran penduduk di daerah-daerah tersebut, kiranya diperlukan kebijaksanaan khusus, sehingga pembangunan sektor pendidikan benar-benar dapat memacu upaya penyediaan sumber daya manusia yang bermutu. Selanjutnya diharapkan mereka menggali dan mengolah serta memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia secara lebih efektif dan efisien.

Semoga pikiran-pikiran ini senantiasa berguna untuk meningkatkan mutu pendidikan, khususnya di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur.

Ketua Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional

 

 

I. SITUASI DAN PERMASALAHAN UMUM

 

Pemerintah melalui pidato Presiden Republik Indonesia tanggal 6 Januari 1990 mencanangkan niatnya untuk memberi perhatian terhadap peningkatan pembangunan di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur (IBT). Keputusan ini tentunya telah dilandasi oleh penelitian yang cukup, sehingga tiba pada kesimpulan bahwa sudah tiba waktunya untuk mengumumkannya kepada masyarakat luas. Hal ini segera memperoleh sambutan yang luas dari masyarakat, sehingga mulai bergulirlah upaya-upaya untuk memberikan sumbangan pikiran untuk mewujudkan niat yang mulia itu. Berbagai upaya dalam bentuk seminar, konsultasi, studi pengkajian dan lain sebagainya diselenggarakan, untuk membantu merumuskan tanggapan dan sumbangan pikiran, baik untuk diteruskan kepada pemerintah, maupun untuk penggalan kesiapan diri masyarakat guna menyambut keputusan pemerintah itu. 

Tanggapan masyarakat yang luas itu menjadi cermin dari sikap masyarakat yang nampaknya telah lama menanti-nantikan hal tersebut. Seolah–olah mengungkapkan kelegaan bahwa yang lama di nanti-nantikan akhirnya datang juga.

Ini terutama dapat dipantau di kalangan saudara-saudara yang ada di atau berasal dari belahan wilayah Indonesia Bagian Timur. Masyarakat memberikan sambutan yang amat positif, dan ingin membantu suksesnya pelaksanaan tersebut.

Bukan menjadi rahasia lagi bahwa belahan wilayah Indonesia Bagian Timur berbeda keadaannya dari belahan wilayah Indonesia Bagian Barat. Secara geografis ketersebaran pulau-pulaunya berada di wilayah yang sangat luas. Salah satu propinsinya menyebut diri sebagai propinsi 1000 pulau (Maluku). Perhubungan menjadi masalah utama, baik darat, laut, maupun udara. Keadaan medan dan iklim merupakan kendala alami yang luar biasa sulitnya untuk diatasi. Di beberapa wilayah, perhubungan antar pulau dengan perahu rakyat seolah-olah terputus beberapa bulan oleh datangnya musim angin kencang yang menimbulkan gelora hebat di laut. Di Irian Jaya, 75% dari kecamatan-kecamatan yang ada terpaksa harus dicapai dengan angkutan udara, karena tidak adanya angkutan darat atau sungai.

Ketersebaran penduduk maupun isolasi alami menimbulkan keadaan yang khusus pula. Ratusan bahasa daerah dipergunakan di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur, walaupun jumlah penduduknya tidak terlalu banyak. Kebudayaan-kebudayaan daerah demikian juga halnya, sangat beraneka ragam; mulai dari kebudayaan tingkat Zaman batu sampai Zaman Mutakhir. Ada suku-suku yang masih mengikuti pola suku pengembara, dan hidup terasing di kawasan tepi-tepi hutan, dan tidak mempunyai tempat tinggal tetap.

Keadaan alam juga menjadi sebab keterbelakangan dalam hidup perekonomian. Di wilayah-wilayah yang kurang hujan, ada kecenderungan pada keterbelakangan ekonomi. Pulau Sumba misalnya memiliki penghasilan hanya 1/3 dari rata-rata penghasilan penduduk Indonesia. Terbatasnya sarana angkutan juga sangat membatasi kelancaran pengangkutan hasil produksi ke wilayah konsumen tidak memacu peningkatan produksi. Keterpencilan demikian menjadi kendala yang sangat serius.

Menteri Dalam Negeri menggambarkan keadaan tersebut dengan menyebutkan adanya kantung-kantung keterbelakangan yang tersebar di seluruh Indonesia, yaitu wilayah-wilayah yang tertinggal di belakang dibandingkan dengan rata-rata kemajuan wilayah-wilayah lainnya. Dijelaskan juga bahwa kantung-kantung keterbelakangan ini lebih banyak terdapat di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur daripada belahan wilayah Indonesia Bagian Barat.

Di samping itu kita mengetahui juga bahwa belahan wilayah Indonesia Bagian Timur sering disebut sebagai wilayah masa depan Indonesia. Belahan wilayah Indonesia Bagian Timur menjadi pintu gerbang yang menghadap kawasan Pasifik, yang diramalkan akan menjadi kawasan ekonomi dunia yang amat penting. Belahan wilayah Indonesia bagian Timur menempati posisi amat strategis dari sudut pandang ekonomi di masa depan.

Hal ini ditunjang pula oleh kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh belahan wilayah Indonesia Bagian Timur, baik yang tersimpan di darat maupun di laut. Semua ini merupakan kemungkinan-kemungkinan yang secara potensial sangat penting bagi pembangunan di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur, yang bila ditangani dengan tepat dapat dengan mudah mengangkat belahan wilayah Indonesia Bagian Timur ke tingkat yang sama dengan di belahan wilayah Indonesia Bagian Barat.

Pendidikan mempunyai peranan dalam suksesnya pembangunan di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur. Untuk sanggup mengolah sumber daya alam, sumber daya manusia perlu lebih dahulu dipersiapkan. Pendidikan adalah sarana dan wahana untuk peningkatan sumber daya manusia itu secara utuh. Oleh sebab itu peningkatan pendidikan di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur merupakan syarat mutlak bagi keberhasilan pembangunan belahan wilayah Indonesia Bagian Timur secara menyeluruh.

 

II. BEBERAPA ANALISIS

Potensi sumber daya alami di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur yang beraneka ragam, berupa bahan tambang di darat, kekayaan hutan, kekayaan di laut, kekayaan budaya dan keindahan alam, lahan pertanian yang luas merupakan kemungkinan-kemungkinan konkrit yang tinggal menunggu penanganan oleh manusia secara berhasil dan bertanggung jawab, menuntut adanya pendidikan dalam arti yang luas. Ini ada kaitannya dengan potensi sumber daya manusia, yang akan menjadi peserta didik. Tempaan alam banyak membuka peluang khusus bagi terpupuknya bakat dan kemahiran, dengan melalui pendidikan yang sistematik akan sangat meningkat kadarnya. Belahan wilayah Indonesia Bagian Timur merupakan pesemaian alami bagi bibit-bibit pelaut dan nelayan, petani dan peternak lahan kering, prajurit dan pejuang, yang melalui pendidikan akan mencapai kualitas yang lebih baik.

Situasi dan letak geografis yang mengakibatkan isolasi dan ketertinggalan menjadi kenyataan di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur. Belahan wilayah Indonesia Bagian Timur jauh dari pusat administrasi pemerintahan, pusat pendidikan, pusat pengembangan ekonomi dan alur utama lalu lintas, sehingga tidak memiliki daya tarik alamiah bagi angkatan modern yang berorientasi pada kebudayaan kota. Diperlukan upaya yang dilakukan dengan sengaja guna menghilangkan kendala-kendala yang telah menjadi kenyataan historis, dan menciptakan peluang-peluang untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tadi.

Apabila niat pemerintah untuk lebih meningkatkan pembangunan di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur telah menjadi suatu keputusan politik, maka ini akan menjadi peluang emas bagi terjadinya perubahan-perubahan. Tersedianya dana untuk menunjang program pembangunan, didukung oleh aparat pemerintahan yang kuat orientasinya terhadap pembangunan belahan wilayah Indonesia Bagian Timur, disambut oleh masyarakat yang merindukan perubahan melalui pembangunan, merupakan faktor-faktor yang akan menyukseskan upaya tersebut. Keberhasilan pembangunan adalah apabila masyarakat ikut berpartisipasi aktif dan ikut memetik buah pembangunan itu secara konkrit. Dengan kata lain rakyat berperan sebagai subjek dalam pembangunan. Untuk dapat mencapai ini masyarakat harus dimampukan untuk memainkan perannya sebagai warga yang dewasa dan bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan-keputusan sebagai warga negara. Ini semuanya hanya dapat dicapai melalui pendidikan yang menjadi kunci untuk menyingkirkan kebodohan dan mengurangi ketidaktahuan.

Isolasi yang menghasilkan keterpisahan dan ketertinggalan banyak sekali menjadi penyebab munculnya sikap mental yang menjadi kendala bagi kemajuan. Pembangunan nasional Indonesia mengacu pada Pancasila, UUD 1945, wawasan nusantara, dan ketahanan nasional. Rasa kesatuan bangsa, justru harus mengalahkan sukuisme dan daerahisme. Kemampuan untuk menggunakan satu bahasa nasional yakni bahasa Indonesia, justru harus menjadi kebanggaan karena dengan penguasaan bahasa itu seseorang menjadi bagian dari satu bangsa dengan penduduk yang berjumlah 181 juta, dan menduduki peringkat nomor lima di dunia ini. Kesadaran menjadi bagian dari Kepulauan Indonesia yang berjumlah lebih dari 17.000 pulau itu, justru harus menimbulkan rasa cinta tanah air Indonesia yang satu, yang bersifat Bhinneka Tunggal Ika. Untuk mencapai ini semua pendidikan juga memainkan peranan kunci.

 

III. POKOK-POKOK PERMASALAHAN

1.     Isolasi

Isolasi geografis menjadi sumber kendala utama bagi kemajuan. Terbatasnya sarana lalu lintas menyebabkan keterpencilan sehingga menghambat pembangunan. Hasil produksi tidak dapat dijual, sedang barang-barang yang harus didatangkan dari daerah lain menjadi sangat mahal. Industri enggan masuk ke wilayah seperti itu, karena tidak tersedianya sarana pendukung yang memungkinkan suatu usaha yang mendatangkan keuntungan yang wajar. Permodalan yang dibutuhkan menjadi sangat besar, karena harus ditanamkan untuk pengadaan sarana dan prasarana untuk menembus isolasi tersebut.

2.     Sumber Daya Manusia

Insan pembangunan adalah buah upaya pembinaan, pendidikan dan latihan. Kendala isolasi sangat menghambat pengembangan sumber daya manusia. Kekurangan sumber-sumber bacaan (buku-buku pelajaran tidak dapat diangkut karena sangat mahal biayanya, media cetak tidak menjangkau wilayah tersebut karena tidak menguntungkan) akan tetap menjadi sumber kebodohan. Hal ini menyebabkan rakyat tetap buta huruf, tidak terbina-terdidik-terlatih. Tanpa pengetahuan dan upaya untuk terlibat aktif dalam upaya pengembangan industri, tidak akan memungkinkan adanya kemajuan dan pengembangan. Akibatnya wilayah itu akan tetap terbelakang.

3.     Situasi yang Kompleks

Keterbatasan penduduk pada ribuan pulau-pulau dan daerah-daerah terisolir selama berabad-abad, menyebabkan keanekaragaman suku, bahasa, adat dan kebudayaan lebih banyak jumlahnya. Di Irian Jaya, misalnya lebih dari 250 bahasa lisan yang dipergunakan. Di pulau Alor lebih dari 40 bahasa daerah. Bahasa sebagai wahana komunikasi sangat penting bagi penyelenggaraan pendidikan, terutama pada tahap-tahap pertama pendidikan dasar. Nampak di sini peran kunci guru-guru asal daerah tersebut, yang menguasai bahasa ibu dari para peserta didik, dan mengetahui adat dan kebudayaan mereka, sehingga dapat mengajarkan bahan kajian dasar pada tahap awal pendidikan dasar dengan lebih baik, dan mengantar peserta didik pada penguasaan bahasa nasional dan wawasan nasional pada tahap-tahap selanjutnya.

 

IV. SUMBANGAN PIKIRAN

 

1.     Menyusuli kenaikan Rencana Anggaran Belanja (RAB) untuk pembangunan infrastruktur, RAB untuk peningkatan pembinaan sumber daya manusia perlu segera dinaikkan, khususnya pembangunan sektor pendidikan. Ini sangat dibutuhkan guna mengurangi kesenjangan tingkat perkembangan antara kualitas struktur formal pendidikan di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur dengan di belahan wilayah Indonesia Bagian Barat.

2.     Kecenderungan untuk menambah jumlah sekolah-sekolah umum perlu dikendalikan, dan sebagai gantinya jumlah dan jenis sekolah-sekolah kejuruan, dan kursus-kursus/latihan keterampilan, yang sesuai dengan kebutuhan di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur perlu ditingkatkan.

3.     Kecepatan peningkatan “perangkat keras” pendidikan (gedung, perlengkapan, alat-alat lain) perlu segera diimbangi dengan percepatan peningkatan “perangkat lunak” (guru, bahan dan alat pelajaran).

Pengangkatan guru-guru sekolah dasar yang menguasai bahasa daerah perlu diprioritaskan, untuk memantapkan penyelenggaraan pendidikan dasar.

Pada masa transisi, apabila untuk memenuhi kebutuhan tenaga guru masih harus didatangkan dari daerah lain, maka untuk menghargai pengorbanan dari para guru yang dimaksud, perlu sekali disediakan imbalan berupa tunjangan-tunjangan khusus yang memadai.

4.     Guna mengatasi keterpencilan karena ketersebaran, kebutuhan akan asrama yang baik, sebagai pengganti fungsi orang tua yang jauh (dan dalam banyak kasus: terbelakang) menjadi sangat vital (khususnya di wilayah Irian Jaya).

5.     Dibutuhkan pematangan konsep yang mantap baik oleh pemerintah maupun masyarakat dalam menangani situasi lintas budaya yang mencolok perbedaannya (bagaimana mendidik suku-suku yang masih berada dalam kebudayaan zaman batu, suku-suku yang hidup berkelana, dan sebagainya).

Perlu dikembangkan program pendidikan khusus untuk menghadapi keadaan-keadaan seperti di atas sehingga secara bertahap keterbelakangan itu dapat dikurangi.

6.     sebelum memasuki langkah pembangunan pendidikan di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur yang mempunyai ciri-ciri khas, perlu sekali dimantapkan kurikulum pada tingkat nasional, karena setiap perubahan akan menimbulkan goncangan yang drastis. Kurikulum nasional yang telah dimantapkan akan menjadi kerangka yang tetap, sementara yang berubah secara dinamis adalah isinya yakni bahan, ilustrasi dan pengalaman belajar yang bersumber dari lingkungan setempat, dan mengikuti proporsi yang tepat, serta perubahan sesuai dengan kemajuan  ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Jadi kurikulum nasional hendaknya hanya merupakan garis besar yang menunjukkan kerangka pengetahuan yang diperlukan untuk setiap peringkat pendidikan.

7.     Keanekaragaman etnis yang sangat banyak di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur perlu memperoleh penanganan yang khusus, sehingga dapat dilayani sebaik-baiknya. Dalam jangka panjang penanganan khusus ini akan menghilangkan kesenjangan antara kebijaksanaan nasional dan pelaksanaannya di daerah.

Kecuali pendidikan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dan mental spiritual, perlu lebih diintensifkan pendidikan ideologi dan politik atas dasar Pancasila, UUD 1945, Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional.

Pemerintah perlu mengembangkan perencanaan yang khusus guna mengelola secara berimbang dan terkendali permasalahan yang kompleks tersebut, dengan sikap sebagai “pamong” dan “panutan” yang mantap, bagi pengembangan kepemimpinan dan masyarakat di daerah yang lebih dewasa.

8.     Upaya meningkatkan mutu produk pendidikan harus terus dilakukan dengan sikap pantang menyerah. Standar mutu yang harus dicapai tidak boleh menurun dalam menghadapi tantangan situasi geografis di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur. Hal-hal ini harus diusahakan dengan sungguh-sungguh, sehingga kawasan terpencil dapat dibantu mengejar ketinggalannya.

9.     Pilihan langkah strategis yang harus ditempuh adalah melalui jalur program pengadaan guru bermutu yang sangat menjurus dan diikuti dengan program pengadaan sarana utama pendidikan yaitu buku pelajaran yang berorientasi kepada lingkungan di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur; tanpa mengurangi makna kurikulum nasional. Mengenai buku-buku pelajaran wajib, kecuali penyediaannya secara cukup bila perlu perusahaan daerah dan pihak swasta diikutsertakan pendistribusiannya kepada para peserta didik di wilayah-wilayah amat terpencil, perlu dibiayai secara khusus.

10.  Program pengadaan guru bermutu dapat diawali dengan pengangkatan guru lulusan IKIP melalui seleksi ketat, terutama bagi calon-calon yang akan terus mengabdikan darma baktinya di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur. Dalam masa transisi para lulusan SPG asal daerah tersebut, dapat diangkat untuk mengisi kekosongan.

11.  Bila butir 10 di atas kurang berhasil, dapat ditanggulangi dengan pemberian beasiswa bagi mahasiswa IKIP yang berasal dari belahan wilayah Indonesia Bagian Timur, dan bersedia kembali bekerja sebagai guru di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur secara tetap. IKIP dan FKIP di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur supaya ditingkatkan kemampuannya melalui mutasi dosen-dosen yang bermutu dari belahan wilayah Indonesia Bagian Barat. Mungkin juga dapat dikembangkan program afiliasi dengan IKIP-IKIP yang baik di belahan wilayah Indonesia Bagian Barat, bagi kemungkinan pertukaran dosen dan pemagangan, serta pembinaan guru inti (master teachers). Bila perlu penerimaan mahasiswa IKIP di belahan wilayah Indonesia Bagian Barat dikurangi dan dananya dialihkan ke belahan wilayah Indonesia Bagian Timur. Sejalan dengan pola ini LPTK/PGSD di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur pun harus diprioritaskan.

12.  Berkenaan dengan adanya pengamatan bahwa jalur pendidikan luar sekolah yang telah diselenggarakan di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur kurang diminati oleh masyarakat terutama angkatan muda, perlu sekali dilakukan penilaian ulang guna mencapai perubahan yang tepat, yang berorientasi pada pemenuhan pasaran tenaga kerja di wilayah tersebut. Usaha ini dapat dilakukan dengan bekerjasama dengan industri-industri yang ada di wilayah tersebut.

13.  Mengingat potensi kelautan di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur sangat besar, pendidikan yang berorientasi pada penguasaan Iptek pengelolaan laut dan angkutan laut perlu diprioritaskan. Apabila terlambat dan tidak dijaga, kekayaan lautan belahan wilayah Indonesia Bagian Timur akan dikuras oleh pihak asing, dan tidak akan termanfaatkan untuk pembangunan belahan wilayah Indonesia Bagian Timur sendiri.

14.  Potensi pariwisata belahan wilayah Indonesia Bagian Timur dilihat sebagai peluang yang konkrit. Penyelenggaraan pendidikan yang berkaitan dengan kepariwisataan pada berbagai jenjang merupakan kebutuhan yang perlu segera ditanggulangi, baik melalui pendidikan jalur sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah. Sementara di lingkungan keluarga dan masyarakat perlu diselenggarakan pembinaan guna menanggulangi dampak negatif dan kehadiran para wisatawan asal manca negara dalam jumlah besar.

15.  Kebutuhan akan pengembangan pendidikan dan keterampilan manajerial, terutama yang mampu memacu Usaha Mandiri (self employed enterprise) merupakan hal yang mendesak.

Kelima belas saran dan pendapat tersebut di atas tertuju pada perlunya upaya penyempurnaan dalam sektor pendidikan di belahan wilayah Indonesia Bagian Timur dikaitkan dengan sektor-sektor pembangunan lainnya sebagai satu kesatuan sistem.

 

KEMBALI KE MENU SARAN PERTIMBANGAN

KEMBALI KE MENU UTAMA